REFLEKSI TATAPMUKA MENJAWAB PERTANYAAN
(Rabu, 24 April 2013)
BELAJAR DAN ATTITUDE FILSAFAT
Oleh : Prof. Marsigit
Pengertian “ADA atau YANG MUNGKIN ADA” menurut filsafat setidaknya dalam
pikiran manusia. Artinya siswa dianggap ada atau mungkin ada ketika siswa
berfikir. Dianggap siswa ada ketika mengerjakan tugas, dan hasil pengerjaan
siswa sebagai pengada dari siswa itu sendiri.
Cara belajar anak berbeda-beda menurut tingkatan usianya, contohnya anak
balita akan belajar dengan memahami lingkungan sekitarnya. Dan perlu diingat
bahwa manusia belajar itu apapun, kapanpun dan dimanapun.
Manusia dalam pemahaman tentang pengertian “ADA atau YANG
MUNGKIN ADA” menurut filsafat ada 3 aspek yaitu :
1. Ontology
Ontology adalah pertanyaan-pertanyaan yang timbul dalam memahami hakekat
pengetahuan.
Contohnya :
a. Objek apakah
yang ditelaah?
b. Apakah objeknya
itu ada?
c. Dapatkah objek
itu kita pahami dengan indra kita?
d. Bagaimanakah
menelusuri objek itu?
e. Seperti apakah
wujud dari objek itu?
f. Dapatkah objek
itu ditarik kesimpulan?
2. Epistimologi
Epistimologi adalah cara penjelasan mengenai metoda atau prosedur yang
digunakan dalam memperoleh pengetahuan.
Contoh
a. Dengan apakah
pengetahuan itu didapat?
b. Adakah hal-hal
tertentu yang perlu diperhatikan dalam mendapatkan pengetahuan
3. Aksiologi
Aksiologi merupakan pengetahuan yang membahas tentang norma-norma atau
nilai moral dalam menjawab suatu pertanyaan.
Contoh
Perilaku bagaimanakah seharusnya dalam menjawab pertanyaan?
Kaidah manakah yang seharusnya digunakan dalam menjawab pertanyaan agar
sesuai dengan profesionalisasinya?
Pengertian “ADA atau YANG MUNGKIN ADA” diperkuat oleh pendapat-pendapat
filusuf dengan aliran-alirannya, antara lain :
a. Rene Descartes
(1596-1650 M) dengan aliran rasionalisme yang
berpendapat bahwa sesuatu ada jika dapat dipikirkan yang terkenal dengan
“cogito ergo sum” (aku berpikir maka aku ada).
b. David Hume
(1711-1776 M), dengan aliran Empirisme yang berpendapat
bahwa pengalaman sebagai sumber utama pengetahuan.
c. Plato
(427-374 SM) murid Socrates, dengan aliran Idealisme yang
berpendapat bahwa yang nyata hanyalah dunia idea sedangkan alam adalah gambaran
dari dunia ide.
d. Gustave Flaubert
(1821-1889 M), dengan aliran Realisme yang berpendapat
bahwa pengetahuan diperoleh dari ide dan pengalaman. Dari tokoh
inilah yang melahirkan banyak filsafat.
e. Auguste de
Comte, dengan aliran Positivisme yang berpendapat bahwa
pengetahuan berdasar atas bukti empiris dan pengalaman(observasi).
Belajar adalah usaha memahami segala hal dengan baik dan benar. Dalam
belajar pastilah mengalami kesulitan dan kebingungan maka sipembelajar dengan
ikhlas, haruslah banyak-banyak membaca, membaca dan membaca untuk selanjutnya
direfleksikan. Dalam belajar sering terjadi kita harus memilih, maka pilihlah
yang lebih urgen, karena hakekatnya memilihitu adalah abstrak.
Hal lain dalam pergaulan bermasyarakat, senatiasa kita harus menggunakan
memilih perasaan hati yang bijak, bukan suasana pikiran. Hal ini dikarenakan
dalam masyarakat menggunakan kultur budaya yang memberlakukan etik, estetika
dan sopan santun yang perlu dijunjung tinggi.
Filsafat datang dan pergi, tidak dengan tiba-tiba.
Penyakit filsafat adalah diskrit.
Dalam segala hal, marilah kita pahami sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya
dengan batasan ruang dan waktu dengan berpedoman spiritual, dimana spiritualah
yang paling tinggi hakekatnya.
Tokoh-tokoh matematika:
1. Hilbord,
berpendapat matematika adalah tunggal
2. Godel murid
Hilbord, berpendapat matematika adalah tidak tunggal
3. Prof . Ir RMJT
Suhakso, berpendapat matematika adalah multiface jadi matematika bisa opened,
closed dan opened and closed, serta matematika diibaratkan wanita cantik .
Demikian refleksi yang dapat kami tulis, semoga akan berguna dan mendapat
manfaat. Terima kasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar