Minggu, 05 Mei 2013


REFLEKSI TATAPMUKA MENJAWAB PERTANYAAN
(Rabu, 24 April 2013)
BELAJAR DAN ATTITUDE FILSAFAT
Oleh : Prof. Marsigit

Pengertian “ADA atau YANG MUNGKIN ADA” menurut filsafat setidaknya dalam pikiran manusia. Artinya siswa dianggap ada atau mungkin ada ketika siswa berfikir. Dianggap siswa ada ketika mengerjakan tugas, dan hasil pengerjaan siswa sebagai pengada dari siswa itu sendiri.
Cara belajar anak berbeda-beda menurut tingkatan usianya, contohnya anak balita akan belajar dengan memahami lingkungan sekitarnya. Dan perlu diingat bahwa manusia belajar itu apapun, kapanpun dan dimanapun.
Manusia dalam  pemahaman tentang pengertian “ADA atau YANG MUNGKIN ADA” menurut filsafat ada 3 aspek yaitu :
1.        Ontology
Ontology adalah pertanyaan-pertanyaan yang timbul dalam memahami hakekat pengetahuan.
Contohnya :
a.       Objek apakah yang ditelaah?
b.      Apakah objeknya itu ada?
c.       Dapatkah objek itu kita pahami dengan indra kita?
d.      Bagaimanakah menelusuri objek itu?
e.       Seperti apakah wujud dari objek itu?
f.       Dapatkah objek itu ditarik kesimpulan?

2.        Epistimologi
Epistimologi adalah cara penjelasan mengenai metoda atau prosedur yang digunakan dalam memperoleh pengetahuan.
Contoh
a.       Dengan apakah pengetahuan itu didapat?
b.      Adakah hal-hal tertentu yang perlu diperhatikan dalam mendapatkan pengetahuan
3.        Aksiologi
Aksiologi merupakan pengetahuan yang membahas tentang norma-norma atau nilai moral dalam menjawab suatu pertanyaan.
Contoh
Perilaku bagaimanakah seharusnya dalam menjawab pertanyaan?
Kaidah manakah yang seharusnya digunakan dalam menjawab pertanyaan agar sesuai dengan profesionalisasinya?

Pengertian “ADA atau YANG MUNGKIN ADA” diperkuat oleh pendapat-pendapat filusuf dengan aliran-alirannya, antara lain :
a.         Rene Descartes (1596-1650 M) dengan aliran  rasionalisme yang berpendapat bahwa sesuatu ada jika dapat dipikirkan yang terkenal dengan “cogito ergo sum” (aku berpikir maka aku ada).
b.        David Hume (1711-1776 M), dengan aliran Empirisme yang berpendapat bahwa pengalaman sebagai sumber utama pengetahuan.
c.          Plato (427-374 SM) murid Socrates, dengan aliran Idealisme yang berpendapat bahwa yang nyata hanyalah dunia idea sedangkan alam adalah gambaran dari dunia ide.
d.        Gustave Flaubert (1821-1889 M), dengan aliran Realisme yang berpendapat bahwa  pengetahuan diperoleh dari ide dan pengalaman. Dari tokoh inilah yang melahirkan banyak filsafat.
e.         Auguste de Comte, dengan aliran Positivisme yang berpendapat bahwa pengetahuan berdasar atas bukti empiris dan pengalaman(observasi).
Belajar adalah usaha memahami segala hal dengan baik dan benar. Dalam belajar pastilah mengalami kesulitan dan kebingungan maka sipembelajar dengan ikhlas, haruslah banyak-banyak membaca, membaca dan membaca untuk selanjutnya direfleksikan. Dalam belajar sering terjadi kita harus memilih, maka pilihlah yang lebih urgen, karena hakekatnya memilihitu adalah abstrak.
Hal lain dalam pergaulan bermasyarakat, senatiasa kita harus menggunakan memilih perasaan hati yang bijak, bukan suasana pikiran. Hal ini dikarenakan dalam masyarakat menggunakan kultur budaya yang memberlakukan etik, estetika dan sopan santun yang perlu dijunjung tinggi.
Filsafat datang dan pergi, tidak dengan tiba-tiba.
Penyakit filsafat adalah diskrit.
Dalam segala hal, marilah kita pahami sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya dengan batasan ruang dan waktu dengan berpedoman spiritual, dimana spiritualah yang paling tinggi hakekatnya.
Tokoh-tokoh matematika:
1.        Hilbord, berpendapat matematika adalah tunggal
2.        Godel murid Hilbord, berpendapat matematika adalah tidak tunggal
3.        Prof . Ir RMJT Suhakso, berpendapat matematika adalah multiface jadi matematika bisa opened, closed dan opened and closed, serta matematika diibaratkan wanita cantik .
Demikian refleksi yang dapat kami tulis, semoga akan berguna dan mendapat manfaat. Terima kasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar